Senin, 06 September 2010

Sesederhana itu~

Diposting oleh Nuy di 14.47 33 komentar
“Pagi cantik…!” sapa seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku muak mendengar suaranya, setiap pagi pasti dia sudah stand by di depan gerbang menyambutku. Yaikss! Aku tak butuh patung selamat datang sepertimu! Aku melengos pergi menjauh dari hadapannya karena aku sudah bosan berurusan dengannya. Bertemu dengannya bisa memmbuat pagi indahku berubah menjadi suram. Tapi, dasar tukang nguntit! Tidak pernah jera juga dia, padahal selama ini aku selalu cuek padanya. Kuperhatikan dia dengan kedua sudut mataku—masih menguntit dengan tatapan mata nakal dan senyum menyeringai. Aku bergidik dibuatnya. Kupercepat langkahku supaya cepat sampai kelas.

“Kamu nggak bisa mengindar terus cantik!” teriaknya lantang. Oh God! Dia seperti orang gila saja! Aku semakin mempercepat langkahku setelah menyadari bahwa Tyo, si manusia setengah gila sudah mengimbangi langkahku. Tanpa sadar aku malah setengah berlari. Ck! Tanganku dengan manis sudah dicekal oleh tangannya yang kasar dan kekar. Hhh, poor me!

“Kamu nggak bisa kemana-mana cantik, aku cuma mau ngobrol bentar sama kamu,” bisiknya lembut namun mampu membuat bulu kudukku terangkat.

“Lepasin!!” teriakku tanpa sadar. Tyo malah berlagak tak mendengar. Aku mulai panik ketika menyadari dia sudah menyeretku ke tempat sepi--area kelas baru yang belum dipakai. Aku sudah membayangkan semua kemungkinan terburuk yang akan kudapat setelah ini. Aku memang tahu sifatnya, aku telah mengenalnya jauuuh sebelum orang-orang mengenalnya. Tapi ternyata aku tak setahu itu, karena ada sisi kelamnya yang belum kuketahui yang menjadikannya seperti ini.

BUG!! Tiba-tiba Tyo terjengkang hampir mengenaiku karena tanganku masih terpaut dengannya. Sebisa mungkin aku menghindar. Aku terhenyak melihat darah segar mengalir di sudut bibirnya. Terdengar suaranya meringis menahan sakit. Ketika hatiku berniat ingin menolongnya sebuah tangan menggamit tanganku—menahannya kokoh. Aku mendongak mencari tahu pemilik tangan kokoh nan hangat itu, Daffa. Tiba-tiba dadaku berdesir hebat, aliran darahku terasa naik begitu cepat, tanganku mendadak lembab, mataku sedikit kabur melihat sosok yang sudah membuatku ‘jatuh’. Perlahan aku tersadar lalu menarik kembali tanganku dari genggamannya.

“Mmakasih.” Ucapku gugup lalu mengalihkan pandangan pada sosok Tyo yang terkapar lemah. Kuamati dia yang juga sedang mengamatiku dengan tatapan sinis. Mataku beradu pandang dengannya. Di mata itu tergambar jelas rasa kesalnya, kecewa, muak seolah ingin segera menghakimiku karena membuatnya terluka. Aku segera mengalihkan pandanganku darinya dan bergegas pergi dengan Daffa.

“Kim, kenapa kamu selalu benci melihatku?” suara serak Tyo menghentikan langkahku. Daffa mengamatiku dengan mata teduhnya seolah berkata ‘jawablah dengan jujur’. Aku menghela napas berat. Kutatap Tyo seolah mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu itu apa. Menjawab pertanyaan sederhana itu saja terasa berat bagiku.

Kutatap Daffa meminta bantuan tapi ia malah mendorongku untuk tetap mengatakannya. Aku bahkan tak tahu harus berkata apa. Otakku berputar cepat mencari jawaban atas pertanyaan sederhana itu. Pertanyaan itu terlalu sulit bagiku, jika disuruh memilih lebih baik aku akan memilih mengerjakan soal Fisika yang begitu rumit saja daripada menjawab pertanyaannya.

“Kim, jawab!!” teriak Tyo garang. Aku langsung tersadar dari lamunan. Refleks mulutku berucap sekenanya saking takutnya melihat sosok garang itu.

“Aku… aku nggak tahu kenapa yo.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku tertunduk takut karena menyadari sorot mata Tyo yang tajam sedang menatapku dengan seluruh emosi yang bergejolak. Perlahan ia bangkit dan mendekatiku. Tanpa sadar aku mundur teratur dan mendapati Daffa ada dibelakangku—melindungiku.

“Nggak tau Kim? Kamu bilang nggak tau? Kok segitunya kamu menghindar dari aku” Mata Tyo menyorotkan kebencian, rahangnya mengeras dengan tangan mengepal mendekatiku dengan buas. Tiba-tiba Daffa memelukku dari belakang mentransfer kekuatan yang ada untuk menghadapi Tyo.

BUG!! PLAK!! Tyo menghajar Daffa buas setelah menyingkirkanku. Aku meringkuk di sudut ruangan menatap Daffa yang sedang dianiaya Tyo—naas. Merasa cukup dengan korbannya yang sudah tak mampu bergerak Tyo berjalan menghampiriku dengan menyeringai menakutkan. Aku semakin takut, menunduk lebih dalam mencari tempat untukku menyelamatkan diri dari Tyo.

Tyo tersenyum picik melihatku sudah tak berdaya. Aku pasrah Tuhan! Seluruh kekuatanku lenyap sudah terbang dibawa angin. Kaki dan tanganku terasa lemas seolah tak mempunyai otot-otot yang memberikan kekuatan. Air mata meleleh perlahan. Sreet! Tyo menarik tubuhku ke dalam pelukannya dengan kasar. Aku hanya bisa menutup mata berharap takkan terjadi apa-apa.

“Kenapa kamu ketakutan begitu? Aku nggak akan menyakiti kamu,” bisik Tyo tepat ditelingaku semakin membuatku bergidik. Dieratkannya pelukannya dengan kepalaku dibenamkan di dadanya. Sungguh aku tak bisa bernapas! Namun detik berikutnya ia melepaskan pelukannya namun kedua tangannya masih bertopang di bahuku. Aku merasa sudah menjadi gadis frustasi yang ingin bunuh diri. Aku lemah. Rasa ketakutanku telah mengalahkan semuanya.

Tyo menatapku lama, namun aku tak berani menatapnya karena pasti akan kutemukan sosok monster itu sedang menyeringai lebar. Tiba-tiba dia mengelap air mataku yang sedari tadi terjatuh karenanya.
“Kimly aku sayang kamu. Kamu sadar nggak sih? Aku sayang kamu! Kenapa kamu selalu menghindar? kenapa kamu selalu takut sama aku? Padahal aku udah belajar bersikap manis sama kamu,” ujar Tyo frustasi. Perlahan kuberanikan diri untuk menatapnya. Ada kejujuran di matanya, aku tahu itu. Namun hatiku masih saja berontak mengingat sikapnya yang tidak wajar untuk mengungkapkan perasaannya itu.

“Kimly jawab!!” Tyo mengguncang tubuhku membuatku semakin terlihat lemah.

“Aku… aku…” jawabku terbata. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku sendiri masih terkejut mendengar pernyataannya yang tiba-tiba.

“Kimly, kamu tahu? Kamu adalah cinta pertamaku! aku nggak akan bisa ngelupain kenangan kita waktu masih di sekolah dasar.” Tiba-tiba potongan kenangan bersamanya kala itu berkelebat. Dulu ketika aku masih kecil dan polos, aku memang pernah menyukainya. Dia juga cinta pertamaku, kita sering diledek habis-habisan oleh teman-teman karena ketahuan bermain berdua saja. Ya, aku memang menyukainya. Saat itu saja. Beberapa tahun tak bersamanya ternyata sudah merubah semuanya. Dia kini menjelma menjadi sosok preman sekolah, tukang menggoda wanita, tukang palak, playboy dan masih banyak lagi predikat buruk tentangnya. Jujur saja, aku merasa kecewa dengan perubahan sifatnya yang begitu pesat. Kalau saja dia masih menjadi Tyo cinta pertamanya mungkin ia akan menerima Tyo sebagai pacarnya. Tapi kini—

“Kim, kamu lupa sama aku? Aku iyo kim!!” Tyo mengguncang tubuhku lagi. Ingin rasanya aku menjawab tapi suaraku entah hilang kemana. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku—cemas.

“Aku nggak suka dan nggak akan pernah suka sama kamu preman!!” jawabku lantang. Entah keberanian darimana sehingga aku mampu menjawabnya lantang. Sudut bibir Tyo terangkat.

“Kamu udah berani ngelawan aku Kim. Kalau kamu nggak suka sama aku terus kamu suka sama siapa? Daffa? Dia udah punya cewek Kim! Inget dia pernah bilang kan ke orang-orang kalau dia nggak suka sama kamu! Dia pernah bikin kamu malu di depan umum Kim!” DEG! Ucapan Tyo membuatku semakin lemah. Omongannya bak pedang tajam yang langsung menghunus ke ulu hatiku. Kenangan buruk bersama Daffa berkelebat lagi. Ya, Daffa memang pernah mempermalukannya. Tapi cinta telah memaafkannya.

“Aku bisa aja membohongi semua cewek yang aku suka dengan sejuta rayuan yang aku punya! Tapi aku nggak bisa membohongi diri aku sendiri, bahwa aku cuma cinta sama kamu!!”
Aku tertegun mendengarkan ucapannya. Kutatap matanya mencari kejujuran di sana. Ya, aku menemukan kejujuran itu. Benarkah ucapannya itu Tuhan? Setengah hatiku meyakini ucapannya. Namun setengahnya berontak. Ini dilemma yang begitu kompleks.

“Lihat mata aku dan jawab jujur. Apa aku ada di hatimu?”
Aku tatap matanya yang tajam dengan sisa-sisa kekuatanku. Tanpa bersuara. Tanpa ucap. Aku telah menjawabnya. Tiba-tiba Tyo mendekapku erat. Aku memang masih mencintainya Tuhan, sejak masih kecil hingga kini rasa itu tak pernah berubah. Walaupun Daffa sempat mengalihkan pandanganku terhadapnya.

-end-
 

Buah Mimpi Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea